19 Maret 2018

Bagaimana Membangun Keharmonisan di Tengah Perbedaan Suami Istri ?



Beberapa waktu lalu, saya ikut kulwap di WAG Sakinah Family. Materinya bagus banget, seputar keharmonisan suami istri. Pematerinya Kang Canun alias Ikhsanun Kamil, beliau adalah seorang konsultan pernikahan dan keluarga. Begitu pengantar materinya diberikan saya merenung cukup lama. Ternyata hubungan saya dan suami selama ini masih banyak kekurangannya yaa.

Dalam materi tersebut disampaikan bahwa banyak pasangan suami istri yang mencintai tapi saling menyakiti. Wah kok bisa?

Menjelang Pilkada, Awas Rasuah !!


gambar dari google credit


Tanggal 27 Juni mendatang Kabupaten Sumedang akan melaksanakan pemilukada untuk memilih Bupati dan Wakilnya. Ada 5 paslon yang akan bertanding. Sebagaimana yang kita tahu, Sumedang masih tercatat sebagai kabupaten yang memiliki peringkat buruk terkait penyelenggaraan pemerintah dari seluruh kabupaten di Jawa Barat. Karena itu semua paslon menjanjikan perubahan yang lebih baik bagi kota kecil ini. Namun apakah janji-janji tersebut bisa terealisasi atau tidak, kita tak tahu pasti.

Semua paslon sudah mulai bergerilya untuk mencari dukungan dari masyarakat. Seperti yang dilakukan salah satu paslon yang saya temui hari jumat lalu. Di tengah perjalanan menuju Madrasah, kami (saya dan dzikro) berpapasan dengan iring-iringan salah satu paslon yang sedang pawai. Salah satu mobil pick up yang ikut pawai, membawa sound sistem dan memutar lagu dangdut dengan sangat keras. Saya kira ada badut yang lagi ngamen.

Ketika berpapasan dengan kami, mobil paling depan berhenti dan menyodorkan satu bungkus chiki dan kalender. Adik dzikro girang banget dapet satu bungkus ciki. Umminya yang ngebatin. Rasuah bukan ya ini?

26 Desember 2017

LGBT : Antara Bahaya dan Kesesatannya

gambar dari google

Saya tak habis pikir dengan para pelaku dan pendukung LGBT (Lesbian Gay Biseksual dan Transgender). Melihat jumlah mereka yang semakin banyak dan berani menampakkan diri, ada rasa ngeri, ngilu, dan khawatir yang menjalar bersamaan. Bagaimana tidak, akan seperti apa wajah peradaban manusia nantinya jika mereka semakin banyak? Akan seperti apa nasib-nasib anak-anak kita? Apakah mereka akan tetap terjaga fitrahnya? Menurut sebuah penelitian didapatkan data-data bahwa seorang gay punya pasangan antara 20-106 orang per tahunnya. What? Jadi kemungkinan mereka menulari yang lain adalah hal yang sangat mungkin.

Tapi, saya lebih tak habis pikir dengan berbagai pihak yang membela LGBT mati-matian. Dengan dalih HAM mereka memposisikan pelaku LGBT sebagai kaum yang patut di rangkul dan dilindungi. Mereka itu harusnya disadarkan. Kalau tak mau sadar dan taubat, jelas mereka harus dihukum seberat-beratnya.

Pertengahan desember kemarin, masyarakat Indonesia juga dihebohkan dengan keputusan Mahkamah Konstitusi yang menolak permohonan perluasan tafsir pasal-pasal KUHP tentang kesusilaan. MK berdalih membuat hukum pidana yang baru bukanlah kewenangan mereka. Jelaslah, pelaku LGBT merayakan hal ini. Tanpa adanya undang-undang pidana yang meng-kriminalkan tindakan LGBT dan gerakan-gerakannya, mereka bisa tetap bergerak bebas. Padahal dari tahun ke tahun jumlah mereka semakin banyak karena jelas gerakan mereka mendapat sokongan dana dari luar

13 Juli 2017

Ketika Si Kecil Bertanya (Part 1)


Tahun ini si sulung a.k.a teh Khoir sudah genap 5 tahun. Di tahun ini pula, dia mulai banyak mengajukan pertanyaan yang bikin umminya kewalahan. Anak usia 5 tahun, akalnya memang belum sempurna. Namun mereka sudah mulai bisa berfikir dengan mengaitkan kejadian yang di inderanya dengan pemahaman yang dia miliki.

Pada postingan “ketika Si Kecil Bertanya” ini saya ingin berbagi pengalaman terkait pertanyaan-pertanyaan si kecil. Siapa tahu diperlukan oleh para ibu yang mendapat pertanyaan serupa dari buah hatinya.

Sebelum teh Khoir menanyakan hal ini, saya sudah menjelaskan tentang Allah sebagai Al Khalik dan Al Mudabir. Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini termasuk kita -manusia- Allahlah yang menciptakan dan mengaturnya.

Kemudian suatu hari dia bertanya,
“Mi, kalau fuzzle ciptaan siapa? Allah ya?”
“Fuzzle mainan teteh?” saya meyakinkan.
Dia mengangguk.“Kata Neng Intan mah, fuzzle teh bikinan manusia. Kan kata ummi juga semua ciptaan Allah!”
Saya tersenyum kecut. Saya meyadari kesalahan saya yang tidak tuntas menjelaskan tentang alam semesta kepadanya.

10 Juli 2017

Siapa Yang Pantas Kita Idolakan?


credit

Postingan ini sebenarnya bentuk reaksi saya yang telat akan hari patah hati akhwat nasional hari jumat yang lalu. Wessh... seberapa ngehits kah Muzammil hingga para akhwat membuat gerakan massal? Ah, kayak sendirinya nggak ngefans? Lol

Semenjak Muzammil terkenal karena menjadi imam muda dan suaranya yang merdu ketika membaca Al quran, saya termasuk yang mengidolakannya. Hihihi. Saya sampai nyari-nyari linknya di youtube dan bela-belain buat download. Tapi sueerrr, saya hanya suka suaranya yang bikin meelting dan merinding. Selebihnya tidak. Nanti dipecat jadi istri sama Pak Suami. Selain itu, kehadiran Muzammil menjadi angin segar bagi kaum muda yang saat ini kekurangan sosok panutan.

Sosok Muzammil yang soleh pasti membuat banyak akhwat mengidolakannya dan tak sedikit yang mengharapkannya. Pengalaman. Dulu sebelum menikah saya juga sempat mengidolakan seseorang, sebut saja Mr. S. Dia seorang penulis buku, motivator, dan pengusaha muda. Siapa yang tak suka? Kemudian ketika tersiar kabar pernikahannya, saya sempat limbung dan nelongso. Ya Allah. Tapi kemudian saya sadar, kalau harapan saya pada Mr. S adalah sebuah kekonyolan dan angan-angan belaka. Betapa tidak? Kenal pun nggak! Usaha untuk minta dinikahi pun nggak! Ya jangan harap.

Dari kejadian-kejadian ini seharusnya kita, khususnya para muslimah, bisa mengambil banyak pelajaran. Terkait dengan idola, entah itu terkait dengan siapa yang kita idolakan atau seperti apa sikap kita pada sosok yang kita idolakan, islam memiliki rambu-rambunya sendiri.